DOAKAN KAMI

Jika anda menerima kebaikan dari blog kami, maka doakan agar kami Senantiasa mencintai Allah, selalu mentaati-Nya dan terjaga dari melanggar semua larangan-Nya.

Minggu, 09 September 2012

GOLONGAN DARAH RHESUS

by HENDRO  |  in Seroimunologi at  Minggu, September 09, 2012



PENDAHULUAN
Setelah sistem ABO, maka sistem Rhesus (Rh) merupakan golongan darah yang mempunyai makna klinis terpenting. Tidak seperti halnya anti-A dan anti-B yang selalu ada pada orang normal. Anti Rhesus tidak terdapat daam darah seorang tanpa rangsangan imunisasi. Antigen utama dalan sistem Rhesus adalah antigen D, yang mampu merangsang pembentukan antibodi bila eryhtrosit dengan antigen itu dimasukkan dalam sirkulasi seorang yang tidak mempunyai antigen Rh.
Antigen D terdapat dalam eryhtrosit 85 % orang kulit putih, persentase ini lebih tinggi pada orang kulit hitam, Indian dan Asia. Hanya 15 % orang kulit putih yang tidak mempunyai antigen D, tetapi diantara orang-orang ini haya 50-75% akan membentuk anti-D bila sejumlah besar eryhtrosit dengan antigen D masuk dalam sirkulasi darahnya. Tidak ada golongan darah lain yang mempunyai potensi merangsang pembentukan antibodi melebihi potensi yang dimiliki oleh golongan Rhesus.
Sistem Rhesus terdiri atas bermacam-macam antigen. Orang-orang dengan eryhtrosit yang mengandung antigen D disebut Rh positif atau Rh (+) sedangkan mereka yang tidak mempunyai antigen D disebut Rh negatif, tanpa menghiraukan ada tidaknya jenis antigen sistem Rhesus yang lain. Karena antigen D merupakan yang paling mudah merangsang pembentukan antibodi maka antigen D lah yang pertama-tama harus dicari. Antigen lain adalah seperti C, E, c dan e.
Tidak setiap orang Rhesus negatif yang terpapar pada sel Rh positif membentuk anti-D. Imunisasi lebih sering terjadi karena transfusi daripada akibat kehamilan, karena pada transfusi sel eryhtrosit Rh-positif yang masuk lebih banyak. Sekitar 20% ibu Rhesus negatif membentuk anti-D setelah mengandung janin Rh-positif, sedangkan pada transfusi pembentukan anti-D dapat terjadi pada 50-70% penderita yang ditransfusi dengan eryhtrosit Rh positif.
Rhesus positif (rh positif) adalah seseorang yang mempunyai rh-antigen pada eritrositnya sedang Rhesus negatif (rh negatif) adalah seseorang yang tidak mempunyai rh-antigen pada eritrositnya. Antigen pada manusia tersebut dinamakan antigen-D, dan merupakan antigen yang berperan penting dalam transfusi. Tidak seperti pada ABO sistem dimana seseorang yang tidak mempunyai antigen A/B akan mempunyai antibodi yang berlawanan dalam plasmanya, maka pada sistem Rhesus pembentukan antibodi hampir selalu oleh suatu eksposure apakah itu dari transfusi atau kehamilan. Sistem golongan darah Rhesus merupakan antigen yang terkuat bila dibandingkan dengan sistem golongan darah lainnya. Dengan pemberian darah Rhesus positif (D+) satu kali saja sebanyak ± 0,1 ml secara parenteral pada individu yang mempunyai golongan darah Rhesus negatif (D-), sudah dapat menimbulkan anti Rhesus positif (anti-D) walaupun golongan darah ABO nya sama.
Anti D merupakan antibodi imun tipe IgG dengan berat molekul 160.000, daya endap (sedimentation coefficient) 7 detik, thermo stabil dan dapat ditemukan selain dalam serum juga cairan tubuh, seperti air ketuban, air susu dan air liur. Imun antibodi IgG anti-D dapat melewati plasenta dan masuk kedalam sirkulasi janin, sehingga janin dapat menderita penyakit hemolisis.
Anti-Rh yang dibentuk pada umumnya adalah kelas IgG. Mula-mula dibentuk IgM tetapi biasanya IgM menghilang beberapa bulan atau tahun setelah imunisasi, sedangkan IgG dapat menetap seumur hidup. Anti Rh jarang mengaktifkan komplemen. Dampak biologis anti Rh umumnya melapisi eryhtrosit dan menyebabkan penghancuran eryhtrosit dalam sistem retikuloendotelial.

INSIDEN
Insidens pasien yang mengalami Inkompatibilitas Rhesus ( yaitu rhesus negatif) adalah 15% pada ras berkulit putih dan 5% berkulit hitam, jarang pada bangsa asia. Rhesus negatif pada orang indonesia jarang terjadi, kecuali adanya perkawinan dengan orang asing yang bergolongan rhesus negatif.
Pada wanita Rhesus negatif yang melahirkan bayi pertama Rhesus positif, risiko terbentuknya antibodi sebesar 8%. Sedangkan insidens timbulnya antibodi pada kehamilan berikutnya sebagai akibat sensitisitas pada kehamilan pertama sebesar 16%. Tertundanya pembentukan antibodi pada kehamilan berikutnya disebabkan oleh proses sensitisasi, diperkirakan berhubungan dengan respons imun sekunder yang timbul akibat produksi antibodi pada kadar yang memadai. Kurang lebih 1% dari wanita akan tersensitasi selama kehamilan, terutama trimester ketiga.

GENETIK
Ada tiga subtipe antigen spesifik C,D,E dengan pasangannya c, e, tapi tidak ada d. Hanya gen D dipakai sebagai acuan faktor rhesus. Istilah yang sekarang digunakan adalah Rhesus (D), bukan hanya Rhesus. Sel rhesus (D) positif mengandung substansi (antigen D) yang dapat merangsang darah rhesus (D) negatif memproduksi antibodi. Gen c, e, dan E kurang berperan disini. Hal ini dapat menjelaskan mengapa antibodi yantg dihasilkan oleh wanita Rhesus negatif disebut anti-D (anti-rhesus D).
Seorang wanita Rhesus (D) positif tak akan memproduksi antibodi, karena darah yang positif tak akan memproduksi anti-d, tak ada anti Rhesus d.
Seseorang mempunyai Rhesus (D) negatif, jika diwariskan gen d dari tiap orang tua. Mungkin saja anak Rhesus (D) negatif, jika ibu Rhesus (D) negatif dan bapak Rhesus (D) positif. Bapak dapat mempunyai gen D atau d, sehingga bayi dapat mewarisi gen d dari bapaknya. Sebaliknya, wanita Rhesus (D) negatif dengan pasangan Rhesus (D) negatif, dan tak akan timbul inkompatibilitas Rhesus, walaupun ibu telah membawa anatibodi Rhesus (D) dari kehamilan sebelumnya.


PEMBAHASAN


Adapun penggolongan lain pada darah yaitu penggolongan rhesus. Banyak masyarakat awam yang kurang mengetahui apa itu Rhesus. Istilah ini memang tidak terlalu populer tetapi sangat penting untuk diketahui oleh masing2 orang karena hal ini sangat vital.
Apa itu rhesus?
Rhesus ditemukan oleh landsteiner dan wiener pada tahun 1940. Pada tahun itu mereka menggunakan sample kera yang mana karakteristik darahnya mirip dengan manusia. Dari darah kera tersebut mereka menemukan bahwa ada kera yang permukaan darahnya memiliki antigen dalam bentuk protein dan ada yang tidak. Sel darah merah yang mempunyai antigen protein inilah yang disebut rhesus positip dan yang tidak memiliki antigen protein disebut rhesus negatif. jadi rhesus positip dan rhesus negatip yang membedakan adalah antigen dalam bentuk protein yang ada di permukaan sel darah merah.
Pentingnya mengetahui Rhesus
mengetahui rhesus pada darah kita itu sangat penting. Rhesus sendiri berhubungan dengan antigen yang artinya jika kita mempunyai rhesus positip kemudian kita transfusikan ke dalam darah dengan rhesus negatif maka sel darah yang ber-rhesus negatif  akan menganggap bahwa darah yang di transfusikan itu adalah “musuh” sehingga mereka akan membangun sebuah pertahanan untuk melawan “musuh” tersebut. Sel darah si resipien akan membentuk sebuah antirhesus sehingga darah kita tidak akan berguna bagi si resipien.
Untuk itu patut menjadi sebuah kewaspadaan bagi pemilik golongan darah apapun dengan rhesus negatif terutama para wanita. Kenapa para wanita? karena wanita akan sangat membutuhkan darah jika melahirkan. kekurangan darah ini akan ditutupi dengan transfusi darah. Wanita dengan rhesus negatif tentu akan membutuhkan transfusi darah dengan rhesus negatif pula padahal jumlah pemilik rhesus negatif di indonesia sangat langka. Kurang dari 1 % pemilik rhesus negatif di indonesia dan ini patut menjadi kewaspadaan.


PENUTUP
Saat ini sebaiknya pemeriksaan golongan darah pada pasien selain golongan darah ABO, juga wajib diperiksakan golongan darah Rhesus, namun informasi ini hanya beberapa laboratorium saja yang melaksanakan, dengan alasan bahwa Indonesia memiliki hampir 98% Rhesus (+), namun tidak menutup kemungkinan dengan mudahnya transportasi udara sehingga manusia dapat dengan mudah bepergian sehingga terjadi perkawinan silang orang Indonesia dengan Bangsa lain, yang mana dapat menghasilkan keturunan dengan Rhesus Negatif (-). Apalagi trend artis yang suka menikah dengan bule ketimbang asli Indonesia, dengan alasan memperbaiki keturunan. Oleh sebab itu melalui tulisan yang ringkas ini saya sarankan kepada semua laboratorium klinik/kesehatan dan UTD-PMI/Blood Bank agar melakukan pemeriksaan golongan darah ABO disertakan juga Rhesus.

0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.